Senin, 21 November 2011

RANGKUMAN LENGKAP PENGANTAR PENDIDIKAN (MKDK4001) MODUL 1-9

TUGAS I
RANGKUMAN
PENGANTAR PENDIDIKAN (MKDK4001)
MODUL 1-3



MODUL 1
HAKIKAT MANUSIA DANPENDIDIKAN

Rangkuman KB 1: Pengertian dan Aspek-aspek Hakikat Manusia

Permasalahan tentang hakikat manusia merupakan objek studi salah satu cabang metafisika, yaitu antropologi (filsafat antropologi). Hakikat manusia adalah seperangkat gagasan atau konsep yang mendasar tentang manusia dan makna eksistensi manusi di dunia. Pengertian hakikat manusia berkenaan dengan “prinsip adanya” (principlede’etre) manusia.
Aspek-aspek hakikat manusia, meliputi asal-usulnya, struktur metafisiknya, serta karakteristik dan makna eksistensinya di dunia.
Manusia adalah makhluk Tuhan Yang Maha Esa, atas dasar keimanan hal ini jelas kita akui dan kita pahami; dalam filsafat hal ini didukung oleh argumen kosmologi, sedangkan secara faktual terbukti adanya fenomena kemakhlukan yang dialami manusia.
Manusia adalah kesatuan badaniirohani, hidup dalam ruang dan waktu, sadar akan diri dan lingkungannya, mempunyai berbagai kebutuhan, insting, nafsu, dan tujuan hidup. Manusia memiliki berbagai potensi, yaitu potensi untuk mampu beriman dan bertakwa  kepada Tuhan Yang Maha Esa, berbuat baik, cipta, rasa, karsa, dan karya.
Dalam eksistensinya manusia  memiliki berbagai aspek kehidupan individualisme, sosialitas, kultural, moralitas, dan religius. Semua itu, mengimplikasikan interasksi atau komunikasi, historisitas, dan dinamika.


Rangkuman KB 2:Hubungan Hakikat Manusia dengan Pendidikan

Setelah kelahirannya, manusia tidak dengan sendirinya mampu menjadi manusia. Untuk menjadi manusia, ia perlu dididik dan mendidik diri. Sehubungan dengan ini M. J. Lengeveld menyebut manusia sebagai Animal Educandum. Terdapat 3 asas antropologis yang mengimplikasikan bahwa perlu manusia dididik dan mendidik diri, yaitu:
·         manusia adalah makhluk yang belum selesai menjadi manusia
·         tugas dan tujuan manusia adalah menjadi manusia
·         bahwa perkembangan manusia bersifat terbuka
Dalam kenyataannya manusia perlu dididik dan mendidik diri tersirat makna bahwa manusia dapat dididik. M. J. Langeveld menyebutnya Animal Educabile. Terdapat 5 asas antropologis yang mengimplikasikan kemungkinan manusia untuk dapat dididik, yaitu:
·         asas potensialitas
·         asas sosialitas
·         asas individualitas
·         asas moralitas
·         asas dinamika






Rangkuman KB 3: Pendidikan, Martabat, dan Hak Asasi Manusia

Pendidikan dapat kita definisikan sebgai humanisasi atau upaya memanusiakan manusia, yaitu upaya membantu manusia untuk dapat bereksistensi sesuai dengan martabatnya sebagai manusia. Sebab merealisasikan hakikatnya secara total maka pendidikan hendaknya merupakan upaya yang dilaksanakan secara sadar denganbertitik tolak pada asumsi tentang hakikat manusia.
Hidup bagi manusia bukan sekadar hdidup sebgaimana hidupnya tumbuhan atau hewan, melainkan hidup sebagai manusia. Hak hidup bagi manusia mengimplikasikan hak untuk mendapatkan pendidikan. Hak inilah yang diperjuangkan berbagai organisasi internasional belakangan ini untuk dimasukkan sebagai tambahan daftar hak asasi manusia.
Sebab hak asasi manusia diinjak-injak oleh penguasa pemerintahan monarki dan absolutisme, tercatat dalam sejarah di Eropa, pada awalnya melalui pendidikan hak asasi diupayakan agar diperoleh setiap individu warga negara. Selanjutnya, hak asasi manusia mengimplikasikan hak pendidikan dan demokrasi pendidikan. Pendidikan mesti bersifat demokratis, dan dilaksanakan kewajiban belajar. Mengenai hal ini, sehari setelah proklamasi kemerdekaannya, bangsa Indonesia telah menyatakan bahwa pendidikan adalah hak setiap warga negara. Sekalipun menghadapi berbagai kendala, program wajib belajar telah dimulai sejak 1950 dan sampai kini terus diupayakan. Orang tua, masyarakat, pemerintah dan pemerintah daerah mempunyai hak dan kewajiban dalam bidang pendidikan sebagai jaminan akan hak pendidikan bagi setiap individu atau warga negara. Hal ini sebgaimana dinyatakan dalam UU RI No. 20 Tahun 2003.


MODUL 2
LANDASAN PENDIDIKAN

Rangkuman KB 1: Landasan yuridis dan landasan filosofis pendidikan
Landasan pendidikan merupakan asumsi-asumsi yang berfungsi sebagai titik tolak dalam berfikir dan bertindak dalam rangka pendidikan. Agar sesuai dengan fungsi dan sifatnya serta agar dapat dipertanggung jawabkan, pendidikan harus mempunyai landasan yang kokoh. Berdasarkan sumbernya, landasan pendidikan meliputi landasan religius pendidikan, landasan filosofis pendidikan, landasan ilmiah pendidikan dan landasan yuridis pendidikan. Landasan yuridis pendidikan nasional Indonesia tersurat dalam seperangkat peraturan perundang-undangan yang berlaku di Negara Indonesia yang berkenaan dengan pendidikan. Di dalam landasan yuridis pendidikan nasional termaktub, antara lain tentang mengapa pemerintah harus bertanggungjawab melaksanakan pendidikan, hak warga Negara untuk mendapatkan pendidikan, dasar pendidikan nasional, tujuan dan fungsi pendidikan nasional. Landasan yuridis pendidikan tersebut bersifat ideal dan normative, asumsi-asumsinya diharapkan dan mengikat untuk dijadikan titik tolak praktik pendidikan.
Terdapat berbagai aliran filsafat pendidikan (Idealisme, Realisme, Pragmatism), tetapi sebagaimana tersurat dan tersirat dalam Pembukaan UUD NegaraIndonesia Tahun 1945 dan tersurat dalam Pasal 1 ayat (2) UU RI No.20 Tahun 2003 bahwa dasar pendidikan  nasional adalah Pancasila dan UUD Negara RI Tahun 1945. Karena itu, landasan filosofis pendidikan nasional merupakan asumsi-asumsi filosofis pendidikan yang dideduksi dari filsafat Pancasila.

Rangkuman KB 2: Landasan Ilmiah Pendidikan
Landasan ilmiah pendidikan merupakan asumsi-asumsi pendidikan yang bersumber dari hasil studi disiplin ilmu tertentu yang dijadikan tiitik tolak berpikir dan bertindak dalam rangka pendidikan. Landasan ilmiah pendidikan, antara lain landasan psikologis pendidikan, landasan sosiologis pendidikan, landasan antropologis pendidikan, landasan historis pendidikan, landasan ekonomi pendidikan dan sebagainya.
Secara psikologis, individu memerlukan pendidikan untuk dapat menyelesaikan tugas-tugas perkembangan sesuai tahap perkembangannya. Pendidikan merupakan upaya membantu peserta didik untuk dapat menyelesaikan tugas-tugas perkembangan sesuai dengan tahap perkembangannya. Karena itu, keberhasilan pendidik dalam melaksanakan peranannya akan dipengaruhi oleh pemahamannya tentang perkembangan peserta didik serta kemampuan mengaplikasikannya dalam praktik pendidikan. Pendidikan yang dilaksanakan menyimpang dari tahapan dan tugas-tugas perkembangan peserta didik memungkinkan akibat negative dari perkembangan selanjutnya. Terdapat perbedaan asumsi mengenai factor-faktor yang mempengaruhi perkembangan individu sebagaimana dikemukan tokoh-tokoh teori empirisme, nativisme, dan konvergensi. Demikian juga terdapat perbedaan asumsi-asumsi mengenai bagaimana individu belajar sebagaimana termuat dalam teori belajar atau psikologi behaviorisme, kognitif, dan humanism.
Ditinjau dari sosiologi, pendidikan berarti sosialisasi. Pendidikan merupakan pranata social yang berfungsi untuk mensosialisasikan generasi muda pada suatu masyarakat, agar terwujud homogenitas atau konformitas. Ditinjau dari antropologi pendidikan berarti enkulturasi. Enkulturasi dilakukan masyarakat karena kebudayaan menjadi milik manusia tidak dibawa dari sejak lahir, dan demi mempertahankan eksistensi masyarakat itu sendiri. Ditinjau dari sejarah, pendidikan berarti enkulturasi khusus. Sedangkan ditinjau dari ekonomi, pendidikan berarti human investmen. Terdapat hubungan timbal balik antara pendidikan dengan masyarakat, demikian pula dengan kebudayaan dan ekonomi.

MODUL 3
LINGKUNGAN PENDIDIKAN

Rangkuman KB 1: Lingkungan Pendidikan Terpusat
                              Pendidikan: Keluarga, Sekolah, dan Masyarakat

Dalam arti luas pendidikan adalah hidup, semua pengalaman hidup yang berlangsung didalam lingkungan dan berpengaruh positif bagi perkembangan individu adalah pendidikan. Sebab itu, lingkungan dimana individu hidup merupakan lingkungan pendidikan baginya. Dalam konteks system pendidikan dan konsep pendidikan sepanjang hayat, pendidikan dapat berlangsung baik didalam lingkungan keluarga, sekolah, maupun masyarakat (Tri Pusat Pendidikan). Ketiga lingkungan pendidikan tersebut merupakan komponen sistem pendidikan. Keluarga tergolong lingkungan pendidikan informal, sekolah tergolong lingkungan pendidikan formal, sedangkan masyarakat (selain keluarga dan sekolah) tergolong dalam pendidikan nonformal. Masing-masing lingkungan pendidikan tersebut memiliki karakteristik tertentu berkenaan dengan tujuan pendidikannya, peserta didiknya, isi pendidikannya, cara-cara pelaksanaan pendidikannya, evaluasinya, dan sebagainya. Namun demikian antara lingkungan pendidikan keluarga, sekolah, dan masyarakat terdapat hubungan yang erat dan saling melengkapi, baik berkenaan dengan kepentingan pendidikan bagi peserta didik maupun dalam rangka pelaksanaannya.


Rangkuman KB 2Pendidikan sebagai Suatu Proses
Proses pendidikan berlangsung dalam pergaulan (interaksi sosial) antara pendidik dengan peserta didik dengan menggunakan isi, metode, dan alat pendidikan tertentu yang berlangsung dalam suatu lingkungan untuk mencapai tujuan pendidikan yang telah ditetapkan. Karakteristik pergaulan yang mengandung situasi pendidikan sebagai suatu proses pendidikan adalah :
1.      Adanya upaya mempengaruhi
2.      Pengaruh itu datangnya dari orang dewasa yang ditujukan kepada anak (orang yang belum dewasa) agar mencapai kedewasaan.
Kewajaran (wajar) dan ketegasan (tegas) merupakan 2 sifat yang harus diperhatikan dalam mengubah situasi pergaulan biasa kedalam situasi pendidikan. Proses pendidikan bukanlah pembentukan seseorang, melainkan usaha pengembangan potensi peserta didik atas dasar kedaulatan peserta didik dan kewibawaan pendidik. Kewibawaan merupakan syarat mutlak proses pendidikan, syarat tehniknya adalah kepercayaan, sedangkan dasarnya (motif intrinsik yang harus ada pada pendidik) adalah kasih sayang. Faktor-faktor yang menentukan kewibawaan pendidik adalah kasih sayang terhadap anak, kepercayaan bahwa anak akan mampu dewasa, kedewasaan, identifikasi terhadap anak, dan tanggung jawab pendidikan. Dipihak lain, kepenurutan atau menurutnya anak didik (peserta didik) kepada pendidik akan ditentukan oleh faktor kemampuan anak dalam memahami bahasa, kepercayaan anak kepada pendidik, kebebasan anak dalam menentukan sikap, perbuatan dan masa depannya, identifikasi, imitasi dan simpati. Tanggung jawab pendidikan pada mulanya berada di tangan orang dewasa (pendidik), tetapi lambat laun seiring perkembangan kedewasaan peserta didik tanggung jawab tersebut diserahkan dan diraih oleh peserta didik.










TUGAS 2
RANGKUMAN
PENGANTAR PENDIDIKAN (MKDK4001)
MODUL 4-6

MODUL 4
GERAKAN-GERAKAN PENDIDIKAN

Rangkuman KB 1: Progresivisme dan Esensialisme

Progresivisme berkembang dan melakukan gerakan dalam rangka perubahan soioal dan budaya dengan menekankan pentingnya perkembangan individual. Hal ini merupakan penolakan terhadap pendidikan tradisional yang otoriter dan formalisme yang berlebihan dalam pendidikan. Progresivisme didukung oleh pragmatisme (John Dewey). Ontologinya bersifat evolusionistis dan pluralistis. Manusia dipandang sebagai subjek yang bebas dan mempunyai intelegensi sebagai alat untuk hidup atau memecahkan berbagai masalah dalam lingkungan dan kehidupan yang multi kompleks. Pengalaman bersifat spasial, temporal, dinamin dan plural. Terdapat kesatuan antara pikiran dan pengalaman di dalam perbuatan praktis. Epistemologi: pengetahuan yang diperoleh melalui pengalaman dan cara-cara ilmiah yang mengaplikasikan logika deduktif dan induktif. Pengetahuan dikatakan benar jika dapat diverifikasi dan diaplikasikan (instrumentalisme). Aksiologi: nilai diturunkan dari pengalaman manusia yang riil. Sifat nilai berada dalam proses, relatif, kondisional, dan dinamis. Nilai memiliki kualitas sosial dan individual. Sesuatu dinyatakan baik apabila berguna. Demokrasi dipandang sebagai nilai ideal.
Pendidikan implikasi dari pandangan di atas maka pendidikan merupakan rekonstruksi pengalaman yang terus-menerus, pendidikan adalah transisi kebudayaan, pendidikan adalah hidup itu sendiri. Sekolah hendaknya merupakan miniatur masyarakat yang sesungguhnya. Tujuan pendidikan: agar peserta didik mampu memecahkan masalah-masalah baru dalam kehidupan pribadinya maupun kehidupan sosial yang terus berubah. Karena itu, kurikulumnya berbasis masyarakat, berpusat pada peserta didik dan pengalaman, serta interdisipliner. Metode: mengutamakan problem solving, inquiry and discovery method. Guru hendaknya berperan sebagai fasilitator dan pembimbing siswa belajar. Sedang peserta didik berperan sebagai organisme yang memiliki kemampuan luar biasa untuk tumbuh.
Essensialisme berkembang dan melakukan gerakan sebagai protes terhadap progresivisme. Essensialisme didukung oleh idelalisme dan realisme. Ontologi idealisme: realitas yang hakiki adalah dunia ideal, sedangkan realitas material hanyalah copy dari realitas ideal. Manusia adalah mikrokosmosl. Segala yang ada dan akan terjadi di dunia adalah menurut tata tertentu yang bersumber dari yang absolut. Ontologi realisme: realitas bersifat eksternal dan objektif, di dalam realitas alam terdapat hukum-hukum objektif (kausalitas). Manusia dan masyarakat tunduk pada hukum-hukum tersebut. Manusia mempunyai intelegensi sebagai alat untuk menyesuaikan diri (beradaptasi) terhadap lingkungan. Epistemologi idealisme: sumber pengetahuan adalah dari dalam diri  karena manusia mempunyai ide bawaan. Pengetahuan diperoleh melalui berpikir, intuisi atau introspeksil. Uji kebenaran pengetahuan melalui teori uji koherensi atau konsistensi. Epistemologi realisme: sumber pengetahuan adalah dari diri luar subyek. Pengetahuan diperoleh melalui pengalaman. Kebenaran pengetahuan diuji melalui teori uji korespondensi. Aksiologi idealisme: nilai bersumber dari realitas absolut, nilai bersifat abadi/tidak berubah, sedangkan menurut realisme: nilai bersumber dari hukum alam dan adat istiadat masyarakat.
Pendidikan implikasi dari pandangan diatas maka pendidikan adalah proses konservasi kebudayaan. Pendidikan harus didasarkan kepada nilai-nilai kebudayaan yang telah ada karena telah teruji dalam segala zaman, kondisi, dan sejarah. Pendidikan adalah persiapan untuk hidup, bukan hidup itu sendiri. Tujuan pendidikan adalah mentransmisi kebudayaan, sebab itu sekolah hendaknya berpusat pada masyarakat.
Kurikulum: berisi berbagai pengetahuan dan agama yang dipandang esensial, dan subject matter centered. Metode: mengutamakan metode tradisional yang berhubungan dengan disiplin mental. Guru hendaknya berperan sebagai mediator dunia masyarakat/orang dewasa dengan dunia peserta didik; guru adalah pengambil inisiatif dalam proses pendidikan, sedangkan peserta didikk berperan untuk menyesuaikan diri terhadap nilai-nilai yang absolut atau terhadap masyarakat dan alam. Belajar adalah menerima nilai-nilai sebagaimana diajarkan guru atau pendidik.


Rangkuman KB 2Perenialisme dan Konstruktivisme
Perenialisme berkembang sebagai reaksi dan solusi yang ditawarkan atas terjadinya krisis kebudayaan dalam kehidupan manusia moderen. Aliran filsafat ini didukung oleh idealisme (Plato), Realisme (Aristoteles), Jumanisme Rasional dan Supernaturalisme (Thomas Aquinal).
Ontologi. Sesuai dengan latar belakangnya, aliran ini berpandangan bahwa manusia memerlukan jaminan tentang “realitas yang universal-ada kapanpun dan di manapun sama”. Ontologinya berkenaan dengan asas supernatural, teleologis, dan hyllemorphe. Karena itu, dikenal konsep individual thing, accident, dan essensi. Epistemologi: pengetahuan diperoleh manusia melalui berpikir deduktif karena itu harus bersandar pada self-evidence. Berpikir induktif juga diakui dalam rangka mempelajari individual thing sebagaimana dilakukan dalam rangka mempelajari individual thing sebagaimana dilakukan sains. Namun, sains mempunyai ketergantungan kepada filsafat untuk mendapatkan asas mendasarnya (first principle). Aksiologi: hakikat nilai diturunkan dari yang absolut.
Pendidikan. Implikasi dari pandangan diatas, perenialisme memandang pendidikan sebagai cultural regression; sebagai jalan kembali atau proses kembali manusia sekarang ke dalam kebudayaan masa lampau yang dipandang sebagai kebudayaan ideal. Pendidikan bersifat universal, dan abadui. Pendidikan adalah persiapan untuk hidup. Tujuan pendidikan adalah membantu peserta didik menyingkap dan menginternalisasi nilai-nilai kebenaran yang abadi agar mencapai kebaikan dalam hidup. Kurikulum bersifat subjek centered uniform, universal dan abadi. Mata pelajaran yang mempunyai rasional konten berkedudukan lebih tinggi dari yang lainnya karena harus mengembangkan rasionalitas manusia. Sumber isi kurikulum adalah karya-karya besar berupa the great book. Metode pendidikan dilakukan melalui membaca dan diskusi karya-karya besar yang tertuang dalam the great book.
Konstruktivisme berkembang dalam rangka mengatasi proses pendidikan yang pada umumnya dilakukan melalui transfer pengetahuan dari guru kepada siswa. Parakonstruktivis ingin mengubah agar siswa belajar melalui suatu proses dengan cara-cara yang bermakna memperkaya dan memungkinkan siswa menginterpretasikan alam semesta dengan pengertian ilmiah.
Antologi konstruktivis tidak mengetahui apa sesungguhnya substansi realitas ini mereka tidak tertarik atas persoalan tersebut.
Pendidikan konstruktivisme memandang pendidikan (mengajar) bukan sebagai kegiatan menyampaikan pengetahuan melainkan membantu siswa berpikir secara benar dengan membiarkannya berpikir sendiri. Mengajar adalah berpartisipasi dengan pelajar dalam mengkonstruksi pengetahuan, membuat makna, mempertanyakan kejelasan, bersikap kritis, dan mengadakan justifikasi. Tujuan pendidikan lebih mengutamakan perkembangan konsep dan pengetahuan yang mendalam.


MODUL 5
KONDISI PENDIDIKAN DI INDONESIA

Rangkuman KB 1: Kondisi Pendidikan di Indonesia
Pada masa awal perkembangannya, pendidikan di Indonesia sangat diwarnai oleh pendidikan yang berbasis sosial budaya dilanjutkan dengan berbasis agama yang meliputi agama Hindu, Budha, Islam, Katholik dan Kristen Protestan.
Pendidikan berbasis agama Hindu Budha berkembang pada masa kejayaan Hindu Budha. Begitu juga pendidikan berbasis ajaran Islam berkembang sejak berkembangnya kerajaan Islam di Nusantara yang bertahan di masa penjajahan Belanda. Penyebaran agama Islam melalui para wali songo kemudian berkembang agama Khatolik yang dibawa misionaris oleh bangsa Portugis dan disusul Bangsa Spanyol, sedangkan pendidikan berlandaskan ajaran Kristen Protestan dibawa oleh Belanda.
Pendidikan pada jaman penjajahan Belanda diarahkan untuk kepentingan penjajah melalui penyediaan tenaga dan terampil yang akan digunakan oleh pemerintah kolonial.
Setelah kemerdekaan 17 agustus 1945 yang mana didalamnya memuat pancasila sebagai dasar negara. Bersamaan dengan berjalannya revolusi fisik, pemerintah mulai mempersiapkan sistem pendidikan nasional sesuai dengan amanat UUD 1945.


Rangkuman KB 2: Aliran Pendidikan di Indonesia
Perguruan Muhammadiyah lahir dibawah pengaruh kebangkitan nasional yang diawali dengan berdirinya Budi Utomo tahun 1908 dan masuknya pengaruh pembaharuan dalam pemikiran Islam pada awal abad ke 20. Baik pada zaman penjajahan Belanda maupun setelah merdeka, sekolah Muhammadiyah menampung semua golongan masyarakat.
Pengakuan atas kebebasan anak adalah prinsip yang paling pokok pada taman siswa. Taman siswa secara kuat memberikan corak pada sistem pendidikan nasional pada saat ini.
Ins Kayu Tanam. Pendidikannya didasarkan pada aktivitas dan bertujuan melahirkan dan memupuk semangat bekerja dan percaya diri. Pendidikan kayu tanam tidak menggantungkan pada orang lain.

MODUL 6
ANTROPOLOGI PENDIDIKAN

Rangkuman KB 1: Kebudayaan, Kepribadian dan Pendidikan
Dalam arti sempit kebudayaan ditafsirkan orang sama dengan kesenian, sedangkan dalam arti luas kebudayaan meliputi hampir seluruh kehidupan manusia. Ada 3 wujud kebudayaan,
1.      Wujud ideal
2.      Wujud sistem sosial
3.      Wujud fisik
Dalam masyarakat majemuk, kebudayaan dapat digolongkan kedalam kebudayaan suku bangsa, kebudayaan umum lokal dan kebudayaan naional. Kebudayaan berfungsi sebagai dasar atau alat bagi manusia dalam menghadapi realitas kehidupan dan menangani masalah. Kebudayaan memiliki karakteristik organik dan superorganik, over dan cover, ideal dan aktual, serta stabil dan berubah.
Pendidikan merupakan salah satu pranata kebudayaan, pendidikan merupakan bagian dari kebudayaan. Terdapat hubungan komplementer antara kebudayaan dan pendidikan. Kebudayaan menjadi input bagi pendidikan, sebaliknya pendidikan memiliki konservasi dan inovasi bagi kebudayaan.

Rangkuman KB 2: Karakteristik dan Kemajemukan Sosial Budaya Indonesia
Manusia dan masyarakat Indonesia bersifat majemuk, tetapi mereka tetap satu, yaitu bangsa Indonesia. Kemajemukan bangsa Indonesia meliputi karakteristik fisiknya, karakteristik lingkungan fisiknya, dan sosial budaya. Karakteristiknya yakni bahwa suku-suku bangsa masyarakat Indonesia secara fisik dapat digolongkan kedalam 3 ras yaitu negroid, pedoid, dan mongolid.
Lingkungan fisik kepulauan nusantara dimana masyarakat Indonesia tinggal juga bersifat majemuk. Kemajemukan tersebut baik ditinjau secara tofografi, hidrologi. Lingkungan fisik tersebut ada yang berupa gunung-gunung, perbukitan daratan, lembah, lautan, pantai dan tepian sungai diantaranya banyak juga masih merupakan daerah pedalaman yang terpencil. Kemajemukan terwujud juga dalam realitas sosial budaya Indonesia. Ada 3 golongan kebudayaan ;
1.      Kebudayaan suku bangsa atau kebudayaan daerah
2.      Kebudayaan umum lokal
3.      Kebudayaan nasional.


Rangkuman KB 3: Implikasi Karakteristik Manusia Indonesia pada Pendidikan
Pancasila dan UUD 1945 tergolong wujud ideal kebudayaan nasional. Pancasila berfungsi sebagai falsafah hidup bangsa, serta jiwa dan kepribadian bangsa indonesia. Adapun wujud ideal dari kebudayaan berfungsi sebagai dasar dan alat bagi manusia untuk dapat mengatasi berbagai masalah dalam menghadapi lingkungannya dalam rangka memenuhi kebutuhan hidupnya dan kelangsungan hidupnya.
Profil karakteristik fisik, lingkungan fisik dan kemajemuakan sosial budaya Indonesia antara lain berimplikasi terhadap sifat pengelolaan pendidikan, wajib belajar pendidikan 9 tahun, gerakan nasional orang tua asuh, dan kurikulum pendidikan.


























TUGAS III
RANGKUMAN
PENGANTAR PENDIDIKAN (MKDK4001)
MODUL 7-10

MODUL 7
PERUBAHAN SOSIAL DAN PENDIDIKAN

Rangkuman KB 1: Aspek-aspek penyebab Perubahan Sosial
Terdapat perbedaan antara perubahan budaya dengan perubahan sosial. Dalam aspek perubahan budaya yang berubah adalah unsur-unsur budayanya seperti pengetahuan, kepercayaan, kesenian, moral, hukum, adat istiadat, dan setiap kemampuan serta kebiasaan manusia sebagai masyarakat.
Aspek-aspek yang menyebabkan terjadinya perubahan sosial di Indonesia diantaranya demokratisasi, globalisasi, dan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Demokrasi merupakan proses meningkatnya partisipasi masyarakat dalam berbagai kehidupan. Globalisasi adalah penyebab lain terjadinya perubahan sosial. Globalisasi dapat menimbulkan dampak positif maupun negatif.
Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi dapat memberikan kemudahan secara capat kepada manusia seperti bidang kesehatan, pemukiman, cara berpikir, cara belajar dan cara hidup manusia.

Rangkuman KB 2: Perubahan Sosial Masyarakat Indonesia
Arus demokrasi, globalisasi, dan iptek telah menimbulkan perubahan sosial di Indonesia. Perubahan itu antara lain nasionalisme dan otonomi daerah. Nasionalisme adalah suatu paham yang menjadi ilham kepada sebagian terbesar penduduk dan mewajibkan dirinya untuk mengilhami anggota-anggotanya. Pengertian nasionalisme ada yang didasarkan atas manusianya, dan didasarkan atas perpaduan politik, sosial, ekonomi dan budaya. Otonomi daerah adalah pemberian wewenang dari pemerintah pusat kepada pemerintah daerah dan daerah mempunyai kekekuasaan untuk merencanakan, melaksanakan sendiri urusan yang diserahkan pemerintah pusat dengan konsekwensi bahwa daerah harus mampu membiayainya pula.

MODUL 8
SISTEM PENDIDIKAN NASIONAL

Rangkuman KB 1: Sistem dan Sistem Pendidikan
Konsep pendidikan meliputi 4 hal yaitu definisi sistem, ciri-ciri sistem, jenis-jenis sistem dan model-model sistem. Intergrasi konsep sistem kedalam pemikiran akan memunculkan pandangan sistem atau cara berpikir sistem. Pendekatan sistem melalui 3 aspek yaitu filsafat sistem, analisis sistem dan manajemen sistem.
Sistem pendidikan nasional berada bersama sistem lainnya seperti sistem ekonomi, sistem politik dan sosial budaya. Sebagai sistem terbuka sistem pendidikan nasional mengambil input dari lingkungannya. Pada dasarnya terdapat 3 jenis sumber input utama bagi pendidikan ;
1.      Ilmu Pengetahuan, nilai-nilai dan tujuan yang berlaku di masyarakat
2.      Penduduk dan tenaga kerja yang tersedia
3.      Faktor ekonomi

Rangkuman KB 2: Sistem Pendidikan nasional
Sistem pendidikan nasional adalah keseluruhan komponen pendidikan yang saling terkait secara terpadu untuk mencapai tujuan pendidikan nasional.
Sistem pendidikan nasional diselenggarakan berdasarkan seperangkat landasan yuridis antara lain UUD Negara RI 1945, UU RI NO 20 tahun 2003 tentang sistem pendidikan nasional. Satuan-satuan pendidikan tersebut terdapat 3 jalur pendidikan yaitu pendidikan informal,formal dan nonformal. Dalam sistem pendidikan nasional terdapat 3 jenjang pendidikan yaitu pendidikan dasar, pendidikan menengah, dan pendidikan tinggi.

MODUL
INOVASI PENDIDIKAN

Rangkuman KB 1: Inovasi dan Difusi Inovasi Pendidikan
Inovasi pada dasarnya merupakan pemikiran cemerlang yang bercirikan hal baru ataupun berupa praktik tertentu berupa produk dari suatu olah pikir dan oleh teknologi yang diterapkan melalui tahapan tertentu yang diyakini dan dimaksudkan untuk memecahkan persoalan yang timbul. Ciri utama inovasi adalah memiliki kekhasan, unsur kebaruan dilakukan melalui program yang terencana dan bertujuan untuk perbaikan. Perubahan dalam inovasi dapat berupa penggantian, perubahan, penambahan, penyusunan, dan penguatan. Difusi inovasi dimaknakan sebagai penyebarluasan gagasan inovasi melalui suatu proses komunikasi yang dilakukan menggunakan saluran tertentu tentang waktu tertentu diantara anggota masyarakat. Ada 4 faktor yang mempengaruhi difusi inovasi:
1.      Esensi inovasi itu sendiri
2.      Saluran komunikasi
3.      Waktu dan proses penerimaan
4.      Sistem sosial









Rangkuman KB 2: Adopsi dan pelaksanaan Inovasi Pendidikan
Tahapan proses keputusan inovasi mencakup :
1.      Tahap pengetahuan
2.      Tahap bujukan
3.      Tahap pengambilan keputusan
4.      Tahap implementasi
5.      Tahap konfirmasi
Terdapat 5 jenis kelompok dalam proses adopsi inovasi yaitu : kelompok pembaharuan, adoptor awal, mayoritas awal, mayoritas akhir, dan adoptor akhir. Karakteristik inovasi mempercepat adopsi inovasi adalah keuntungan relatif, memiliki kekompakan, memiliki derajat kompleksitas, dapat dicobakan, dan dapat diamati.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar